AYAT JURNAL PENYESUAIAN sistem informasi akuntansi

 

AYAT JURNAL PENYESUAIAN

Cash Basis dan Accrual Basis

Didalam pencatatan transaksi  dikenal 2 metode pencatatan, yaitu metode kas (cash basis) dan metode akrual (accrual basis). Metode kas merupakan pencatatan transaksi yang mencatat pendapatan dan biaya  setelah pendapatan maupun biaya benar-benar telah diterima per kas atau telah dibayar per kas. Sehingga tidak dikenal perkiraan piutang pendapatan  maupun utang biaya. Sedangkan dalam metode akrual, transaksi dicatat berdasarkan  saat terjadinya. Sehingga pendapatan maupun biaya  akan diakui pada saat terjadinya, oleh karena itu  akan timbul perkiraan piutang dan utang. Sesuai dengan Prinsip Akuntansi Indonesia, dengan metode akrual akan dihasilkan laporan keuangan  yang mempertemukan semua pendapatan dan biaya  dalam periode yang sama.

Penyesuaian Rekening

Penyesuaian pada prinsipnya juga merupakan transaksi, hanya saja transaksi tersebut bersifat khusus dan hanya dilakukan pada akhir periode menjelang penyusunan laporan keuangan. Biasanya hal ini disebabkan oleh dokumen-dokumen sumber  yang pada akhir periode belum dibuat, sehingga transaksi tersebut belum tercatat dalam perkiraan yang bersangkutan. Oleh karena itu perkiraan-perkiraan  tersebut perlu disesuaikan dengan suatu jurnal yang disebut jurnal penyesuaian. Sesuai dengan siklus akuntansi , jurnal penyesuaian  dibuat setelah pembuatan neraca saldo.

Adapun perkiraan-perkiraan yang perlu disesuaikan adalah :

  1. Biaya dibayar dimuka
  2. Pendapatan diterima dimuka
  3. Biaya yang masih harus dibayar
  4. Pendapatan masih harus diterima
  5. Penyusutan aktiva tetap
  6. Kerugian piutang

Pencatatan Jurnal Penyesuaian

  1. Biaya dibayar dimuka

Biaya dibayar dimuka adalah biaya yang terjadi atas pembelian suatu barang atau jasa. Pencatatan biaya ini dapat dilakukan dengan 2 cara:

  1. dicatat sebagai persekot biaya
  2. dicatat sebagai biaya

Contoh :  transaksi pada perusahaan angkuatan Bromo  pada 2 Februari 1986, dibayar premi asuransi Rp 120.000,- untuk periode  2 Februari 1986 – 2 Februari 1987. Maka jurnal dan jurnal penyesuaiannya ialah :

Dicatat sebagai persekot biaya.

Jurnal 2 Februari 1986 :

Persekot asuransi           Rp 120.000,-

Kas                                 Rp 120.000,-

Jurnal penyesuaian       :

Biaya  asuransi              Rp 120.000,-

Persekot asuransi           Rp 120.000-

Dicatat sebagai biaya.

Jurnal 2 Februari 1986 :

Biaya asuransi               Rp 120.000,-

Kas                                 Rp 120.000,-

Jurnal penyesuaian       :

Persekot asuransi           Rp 120.000,-

Biaya asuransi               Rp 120.000,-

  1. 2. Pendapatan diterima dimuka

Pendapatan diterima dimuka adalah pendapatan yang telah diterima sebelum  barang/jasa  yang bersangkutan diberikan.

Pencatatan pendapatan ini ada 2 cara :

  1. diakui sebagai pendapatan
  2. diakui sebagai pendapatan diterima dimuka

Contoh : transaksi pada perusahaan Bromo pada 26 Februari 1986, diterima sewa kendaraan Rp300.000,- untuk pemakaian tanggal 27,28 Februari  dan 1 Maret 1986. Maka jurnal dan jurnal penyesuaiannya ialah :

Dicatat  sebagai pendapatan.

Jurnal 26 Februari 1986 :

Kas                       Rp 300.000,-

Pendapatan jasa                                Rp 300.000,-

Jurnal penyesuaiannya  28 Februari 1986 :

Pendapatan jasa   Rp 100.000,-

Pendapatan jasa diterima dimuka     Rp 100.000,-


Dicatat sebagai pendapatan diterima dimuka.

Jurnal 26 Februari 1986 :

Kas                       Rp 300.000,-

Pendapatan jasa diterima dimuka     Rp 300.000,-

Jurnal Penyesuaiannya  28 Februari 1986 :

Pendapatan jasa diterima dimuka     Rp 200.000,-

Pendapatan jasa                                Rp 200.000,-

  1. Biaya masih harus dibayar

Biaya masih harus dibayar adalah biaya yang sudah terjadi  dalam periode laporan keuangan  namun belum dicatat / dilunasi, karena belum jatuh tempo.

Contoh : transaksi  pada 10 Februari 1986, perusahaan angkutan Bromo  meminjam uang dari bank  Rp 20.000.000,- dengan bunga 16% pertahun dibayar dibelakang  tiap 1 Agustus dan 1 Februari.

Maka jurnal penyesuaian 28 Februari :

Biaya bunga                   Rp 160.000,-

Biaya bunga masih harus dibayar    Rp 160.000,-

Adapun perhitungan bunganya =18/360 * 16% *Rp 20.000.000,-

= Rp 160.000,-

Perkiraan biaya bunga dan biaya bunga masih harus dibayar :

Biaya bunga

28/02      Rp160.000,-

Biaya bunga masih harus dibayar

28/02     Rp 160.000,-

 

  1. ndapatan masih harus diterima

Pendapatan masih harus diterima adalah pendapatan yang terjadi dalam periode laporan keuangan, namun jumlah tersebut belum diterima karena belum jatuh tempo.

Contoh : transaksi  pada 3 Februari 1986 pada perusahaan angkutan Bromo yang menyewakan  ruangan untuk garasi  mobil kepada Tn. Edi selama 6 bulan  dengan harga kontrak  Rp 180.000,-.  Uang kontrak akan dibayar  pada tanggal 3 Agustus 1986. (Laporan keuangan dibuat tanggal 28 Februari 1986).

Jurnal penyesuaian :

Pendapatan sewa masih harus diterima Rp 30.000,-

Pendapatan sewa                              Rp 30.000,-

Keterangan : sampai tanggal 28 Februari 1986 perusahaan telah  memberikan jasa kepada Tn.Edi selama 1 bulan. Pendapatan sewa dari Tn.Edi belum saatnya diterima. Menurut metode akrual pendapatan sewa ini harus tetap diakui pada saat terjadinya. Karena belum saatnya diterima, dicatat sebagai “pendapatan sewa masih harus diterima” di sisi debit sebesar 1/6 * Rp 180.000,- = Rp 30.000,- .

Perkiraan pendapatan sewa dan pendapatan sewa diterima dimuka terlihat sebagai berikut :

Pendapatan sewa masih harus diterima

28/02           Rp 30.000,-

Pendapatan sewa

28/02      Rp 30.000,-

 

  1. Penyusutan aktiva tetap

Penyusutan aktiva tetap adalah alokasi harga perolehan aktiva tetap dalam periode-periode  yang menikmati jasa aktiva tetap tersebut. Maka periode-periode yang menimati jasa tadi  harus dibebani dengan biaya yang disebut “biaya penyusutan aktiva tetap”. Biaya ini secara terus-menerus akan mengurangi  harga perolehan aktiva tetap sampai umur ekonomisnya habis, yang harus diakumulasikan  dalam perkiraan “akumulasi penyusutan tetap”. Perkiraan dicatat pada sisi debit neraca yang mengurangi aktiva yang bersangkutan.

Berikut ini akan dijelaskan metode penyusutan yang paling sederhana yaitu metode garis lurus. Penyusutan ini dapat dihitung dengan cara :

( Harga perolehan – nilai sisa ) / umur ekonomis

Keterangan :

Harga perolehan adalah harga beli aktiva ditambah semua biaya yang dikeluarkan untuk mendapatkan aktiva tersebut, sampai aktiva  itu siap digunakan. Nilai sisa adalah taksiran harga jual aktiva tetap apabila habis disusutkan. Umur ekonomis adalah umur penggunaan aktiva tetap yang paling ekonomis.

Contoh :

Kendaraan yang dimiliki oleh perusahaan angkutan Bromo  yang seluruhnya mempunyai harga perolehan Rp 70.000.000,- , taksiran umur ekonomis  selama 5 tahun dengan nilai sisa Rp 10.000.000,-  (laporan keuangan dibuat tanggal 28 Februari 1986).

Jurnal penyesuaian 28/02/1986 =

Biaya penyusutan kendaraan           Rp1.000.000,-

Akumulasi penyusutan kendaraan   Rp 1.000.000,-

Penjelasan :

biaya penyusutan kendaraan pertahun =

( Rp 70.000.000,-  –  Rp 10.000.000,- ) / 5 tahun =

Rp 12.000.000,-

biaya penyusutan kendaraan untuk 1 bulan =

Rp 1.000.000,-

 

Perkiraan biaya penyusutan dan akumulasi penyusutan kendaraan adalah :

Biaya penyusutan kendaraan

28/02       Rp 1.000.000,-

Akumulasi penyusutan kendaraan

28/02      Rp 1.000.000,-

Penyajian perkiraan kendaraan dan akumulasi penyusutan kendaraan di neraca pada 28 Februari 1986 sebagai berikut:

Kendaraan                                         Rp 70.000.000,-

Akumulasi penyusutan kendaraan  (Rp   1.000.000,-)

Rp 69.000.000,-

  1. Kerugian piutang

Kerugian piutang adalah taksiran jumlah piutang yang tidak tertagih. Oleh karena itu pada setiap akhir periode akuntansi  ditaksir besarnya kerugian piutang. Taksiran ini tidak dapat secara langsung mengurangi piutang yang bersangkutan, tetapi dilakukan dalam perkiraan “penyisihan piutang yang diragukan”.

Dalam akuntansi dikenal  beberapa cara untuk menentukan besarnya  taksiran , salah satu yang paling sederhana adalah  berdasarkan “prosentase tertentu dari penjualan atau saldo piutang pada akhirperiode laporan keuangan”.

Contoh :

Pada tanggal 28 Februari 1986 perusahaan angkutan Bromo  mempunyai saldo  piutang dagang Rp  100.000,- . Perusahaan menetapkan bahwa dari saldo piutang sebesar Rp 100.000,- tersebut   tidak dapat ditagih sebesar 10%. Kerugian piutang  pada 28 Februari tersebut dapat dihitung sebagai berikut :

Kerugian piutang = 10% * Rp 100.000,-

=  Rp 10.000,-

 

Jurnal penyesuaian pada 28 Februari adalah :

Kerugian piutang Rp 10.000,-

Penyisihan piutang yang diragukan Rp 10.000,-

Perkiraan piutang dan penyisihan piutang yang diragukan sebagai berikut :

Kerugian piutang

28/02         Rp 10.000,-

Kerugian piutang yang diragukan

28/02          Rp 10.000,-

Penyajian perkiraan piutang dagang  dan penyisihan piutang yang diragukan di neraca pada 28 Februari 1986 adalah :

Piutang dagang                                 Rp 100.000,-

Penyisihan piutang yang diragukan (Rp   10.000,-)

Rp   90.000,-

 

url dari : klikpintar.files.wordpress.com/2008/07/handout-sia1.pdf

About these ads

Tentang riankostans

Ingin Menjadi Orang Sukses...
Tulisan ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s